Khulafaurrasyidin

SEJARAH PERADABAN ISLAM

MASA KHULAFAURRASYIDIN

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Sejarah Peradaban Islam

Dosen pengampu : Mibtadin Anis, S.Fil, M.Si

Disusun oleh:

Aan Almaidah Fatmawati (123111001)

Anna Mutho Haroh (123111040)

Annisa Giri Respati (12311142)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN BAHASA

IAIN SURAKARTA

2013

  1. A.    Pengantar

Nabi Muhammad SAW tidak menunjuk siapa yang akan menggantikan sepeninggalannya dalam memimpin umat yang baru terbentuk. Memang wafat beliau mengejutkan, tetapi sesungguhnya dalam sakitnya yang terakhir ketika beliau mengalami gangguan kesehatan sekurang-kurangnya tiga bulan, Nabi Muhammad SAW telah merasakan bahwa ajalnya akan segera tiba.

Masalah suksesi mengakibatkan suasana politik umat islam menjadi sangat tegang. Padahal semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW bersusah payah dan berhasil membina persaudaraan sejati yang kokoh diantara sesama pengikutnya, yaitu antara kaum Muhajirin dan Ansar. Dilambatkannya pemakaman jenazah beliau menggambarkan betapa gawatnya krisis suksesi itu. Ada tiga golongan yang bersaing keras dalam perebutan kepemimpinan ini: Ansar, Muhajirin, dan keluarga Hasyim .

Dalam pertemuan di balai pertemuan Bani Saidah di Madinah, kaum Ansar mencalonkan Sa’ad bin Ubadah, pemuka Khazraj, sebagai pemimpin umat. Sedangkan Muhajirin mendesak Abu Bakar sebagai calon mereka karena ia dipandang yang paling layak untuk menggantikan NabiMuhammad SAW. Di pihak lain terdapat skelompok orang yang menghendaki Ali bin Abi Thalib, karena Nabi Muhammad SAW telah menunjuk secara terang-terangan sebagai penggantinya, di samping Ali adalah menantu dan kerabat Nabi Muhammad SAW.[1]

Situasi semakin genting dan hampir terjadi pertumpahan darah. Berkat ketegasan dari Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah ibn Jarrah maka akhirnya Abu Bakar menjadi pemimpin.

Dalam sejarah Islam empat orang pengganti Nabi Muhammad SAW yang pertama adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar “Yang mendapat bimbingan di jalan lurus” (al-khulafa ar-rasyidin) diberikan kepada mereka.[2] Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi Muhammad SAW wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.[3]

  1. B.     Pembahasan

 I.      Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Qurasyi. Berarti silsilahnya dengan Nabi Muhammad SAW bertemu pada Murrah bin Ka’ab).[4] Di masa jahiliyah bernama Abdul Ka’bah, lalu ditukar oleh Nabi Muhammad SAW menjadi Abdullah Kuniyahnya Abu Bakar. Beliau diberi kuniyah Abu Bakar (Pemagi) karena pagi-pagi betul beliau telah masuk Islam. Gelarnya ialah Ash-Shidiqq (yang amat membenarkan). Beliau digelari Ash-Shiddiq, karena amat segera membenarkan Nabi Muhammad SAW dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj.[5]

Dilahirkan pada tahun 573 M. Dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay, berasal dari suku Quraisy, sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya bertemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.[6]

Abu Bakar diangkat menjadi khalifah pertama yang menggantikan Nabi Muhammad SAW setelah meninggal. Beliau dipilih secara aklamasi meskipun ada beberapa tokoh yang menolaknya. Pola pemerintahan Abu Bakar seperti yang dapat dipahami saat pengangkatannya sebagai khalifah. Dilihat dari ucapannya dapat dilihat garis besar dan kebijakannya dalam pemerintahannya. Ada beberapa prinsip dalam pidatonya, yaitu: kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta sholat sebagai intisari taqwa. Kebijaksanaannya antara lain:

  1. a.      Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar timbulnya orang-orang yang murtad, orang-orang tidak mau membayar zakat, adanya orang yang mengaku nabi, dan pemberontakan beberapa kabilah.

  1. b.      Kebijaksanaan kenegaraannya

Di antara kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan atau kenegaraan, antara lain ialah: bidang eksekutif, pertahanan dan keamanan, yudikatif, dan sosial ekonomi.

Pada masa kekhalifahannya Abu Bakar tidak hanya sebagai kepala pemerintahan tetapi juga sebagai panglima tertinggi tentara Islam. Ia mampu untuk memobilisasi segala keuatan untuk keamanan dan pertahanan Negara Madinah, menggalang persatuan umat Islam, mewujudkan keutuhan dan keberlangsungan negara Madinah dan Islam, menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an menjadi satu mushaf. Keberhasilan Abu Bakar tidak terlepas dari kedisiplinan, kepercayaan, dan ketaatan yang tinggi dari rakyat atas kepribadian dan kepemimpinannya.

Pada masa Abu Bakar ini dilakukan penghimpunan ayat-ayat Al-Qur’an yang masih tertulis di pelepah kurma, kulit binatang, dan hafalan kaum muslim. Hal ini dilakukan karena banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam perang Yamamah. Ini merupakan ide  dari Umar bin Khattab. Praktik pemerintahan Abu Bakar dalam bidang sosial ekonomi ialah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, sementara dalam bidang politik Abu Bakar langsung memilih pemimpin untuk pengganti kekhalifahannya. Hal ini dilakukan karena kesehatan Abu Bakar yang semakin parah. Akhirnya Umar bin Khattab yang terpilih menjadi pengganti Abu Bakar untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Penggantian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari sebagian kaum muslim. Beliau dibai’at di Masjid Nabawi.

Abu Bakar wafat pada hari Senin, 23 Agustus 624 M. beliau dimakamkan di rumah Aisyah, di samping makam Nabi. Beliau wafat pada usia 63 tahun dan kekhalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 11 hari.

  1. II.      Khalifah Umar bin Khattab

Umar bin Khattab, memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Naufail bi Abd Al-Uzza bin Ribaah bin Abdillah bin Qart bin Razail bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lu’ay.[7] Beliau adalah putra dari Nufail al Quraisy, dari suku Bani Adi yang terkenal sebagai suku yang terpandang, megah dan berkedudukan tinggi. Beliau adalah negarawan yang bijaksana yang membangun Negara dengan asas keadilan, persamaan, dan persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW beliau adalah tokoh yang bijaksana dan kreatif. Masuknya Umar bin Khattab menjadi Islam adalah suatu kemenangan yang nyata bagi umat Islam.[8] Sebelum masuk Islam Umar bin Khattab adalah musuh besar Nabi Muhammad SAW yang ingin membunuh Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya. Tapi setelah masuk Islam pada bulan Dzulhijjah enam tahun setelah kerasulan Nabi Muhammad SAW, dia menjadi orang yang gigih dan setia terhadan Nabi Muhammad SAW serta menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW.

Pengangkatan Umar bin Khattab menjadi khalifah setelah ditunjuk langsung oleh Abu Bakar ini didasari oleh beberapa faktor. Pertama, kekhawatiran jika peristiwa di Tsaqifah Bani Sa’idah terulang kembali yang bisa menyebabkan umat Islam pecah. Kedua, kaum Anshor dan Muhajirin sama-sama mengklaim bahwa mereka berhak menjadi khalifah. Ketiga, umat Islam baru selesai menumpas kaum yang murtad dan membangkang.

Pada masa sepuluh tahun masa kepemimpinan Umar bin Khattab (13 H/ 634 M – 23 H/ 644 M) sebagian digunakan untuk memperluas kekuasaan Islam di tanah Arab. Beliau juga bisa membebaskan negeri jajahan Romawi dan Persia. Konflik antara umat Islam dengan Romawi dan Persia ini didasari oleh banyak faktor.[9] Pada tahun 635 M/ 14 H Umar bin Khattab mengutus Saad bin Abi waqqas untuk menghadapi bangsa Romawi dan Persia. Pertempuran terjadi di Qadisiyah dan tentara Romawi dan Persia berhasil dikalahkan. Pada tahun 637 M/ 16 H mereka mencoba balas dendam dan terjadi pertempuran di Jakilah, pasukan Persia juga terdesak sehingga kota Hulwan dikuasai Islam-Arab. Tahun 642 M/ 21 H terjadi pertempuran di Nahawan dan tentara Persia berhasil dikalahkan sehingga seluruh wilayah menjadi kekuasaan pemerintahan Islam.

Pada tahun 635 M/ 14 H kota Damaskus, pusat Siria yang penting jatuh ke tangan pasukan Islam-Arab di bawah komando Abu Ubaidah. Tahun 16 H/ 637 M Romawi (Bizantium) melakukan serangan balasan, tapi Abu Ubaidah mampu menghadapinya dalam perang Yarmuk.[10]

Pada tahun 642 M/ 21 H, Mesir berada di bawah kekuasaan Islam-Arab setelah penyerahan Iskandariyah (Alexanderia), ibukota Mesir dan ibukota kedua bagi kekaisaran Romawi Timur.

Semenjak penaklukan Romawi dan Persia, wilayah kekuasaan Islam meliputi: Semenanjung Arabia, Palestina, Siria, Irak, Persia, dan Mesir. Untuk menunjang kelancaran administratif dan operasi tugas-tugas eksekutif, Umar bin Khattab melengkapinya dengan beberapa jawatan, antara lain:

  1. Dewan Al-Kharraj ((Jawatan Pajak);
  2. Dewan Al-Addats (Jawatan Kepolisian);
  3. Dewan Al-Nafiat (Jawatan Pekerjaan Umum);
  4. Dewan Al-Jund ( Jawatan Militer);
  5. Bai’at Al-Mal (Lembaga Pembendaharaan Negara).[11]

Peradaban pada masa Khlifah Umar bin Khattab ialah pola administratif pemerintahan, peperangan, dan peradilan. Akhir dari kekhalifahan Umar bin Khattab ialah ditandai atas kematian beliau karena dibunuh oleh seorang Nasrani bernama Abu Lu’luah. Dia adalah budak kepunyaan Al-Mughirah bin Syu’bah. Abu Lu’luah telah membunuh Umar bin Khattab dengan sebuah belati bermata dua yang ditikamkan sebanyak enam kali. Salah satu dari keenam tikamannya itu mengena pada bagian bawah pusatnya dan inilah tikaman yang dianggap mematikan.[12] Umar bin Khattab wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 23 H sesudah memerintah selama sepuluh tahun, dalam usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar juga wafat pada usia itu. Umar bin Khattab dibunuh di masjid saat beliau hendak  memulai sholat Subuh.

  1. III.      Khalifah Utsman bin Affan

Nama lengkap Utsman bin Affan ialah Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abd Al-Manaf dari suku Quraisy dari Bani Umayah. Lahir pada tahun 576 M. Ibunya bernama Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-Syams bin Abd Al-Manaf. Beliau masuk islam pada usia 30 tahun atas ajakan Abu Bakar. Beliau dijuluki dzun nurain karena menikahi dua putri Nabi secara berurutan setelah yang satu meninggal, yakni Ruqayyah dan Ummu Kulsum.

Pengangkatan Utsman bin Affan menjadi khalifah dilakukan dengan musyawarah oleh Abdur Rahman dan kaum Muslimin dari enam calon yang sudah dipilih.[13] Masa pemerintahan Utsman bin Affan termasuk yang paling lama yaitu selama 12 tahun; 24-36 H/ 644-656 M. Sembelum terpilihnya Utsman bin Affan menjadi khalifah, pemilihan khalifah dilakukan dengan tiga cara pertama, yang berhak menjadi khalifah adalah yang dipilih oleh anggota formatur dengan suara terbanyak. Kedua, bila suara terbagi berimbang (3:3) Abdullah bin Umar yang berhak menentukan. Ketiga, bila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abdul Rahman bin Auf harus menjadi diangkat menjadi khalifah dan jika ada yang menentang, maka penentang tersebut harus dibunuh. Kekuasaan khalifah Utsman bin Affan ini mencapai Asia dan Afrika. Perluasan Islam pada masa Utsman bin Affan ini berhasil menumpas pendurhakaan dan pemberontakan. Daerah yang mendurhakai ialah Khurasan dan Iskandariah, tapi daerah ini berhasil dikembalikan keamanan dan ketentramannya. Perang yang terkenal pada masa Usman bin Affan ialah Perang Zatis Sawari “Perang Tiang Kapal” karena banyaknya kapal-kapal yang ikut berperang. Perang terjadi pada 31 H di Laut Tengah dekat kota Iskandariah, antara Romawi yang dipimpin Kaisar Constantine dan Islam dipimpin Abdullah ibnu Abi Sarah. Perang ini berhasil dimenangkan umat Islam.

Awal-awal masa pemerintahan Utsman bin Affan masih memiliki prestasi, tapi pada akhir-akhir pemerintahannya terjadi banyak pemberontakan dan pembangkangan. Pemberontakan terjadi di Khufah, Basrah dan Mesir. Selain tu juga disebarnya fitnah oleh orang Yahudi dari suku Qainuqa dan Nadhir serta Abdullah bin Saba. Pemerintahan Utsman lebih bercorak pada agama daripada politik. Pemegang kekuasaan tertinggi berada di tangan Khalifah; pemegang dan pelaksana kekuasaan eksekutif. Untuk menjalankan administrasi Negara Utsman bin Affan membagi 10 provinsi yang dipimpin oleh seorang gubernur.[14]

Di bidang sosial budaya Utsman bin Affan telah membangun bendungan yang besar untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Membangun jalan, jembatan, masjid, rumah penginapan para tamu, dan memperluas Masjid Nabi di Madinah.

Utsman bin Affan berhasil membukukan firman Tuhan (kondifikasi Al-Qur’an). Tanggung jawab tersebut diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Dengan demikian, jumlah qiraat atau dialek yang tadinya tujuh (Quraisy, Zaman, Jurkum, Hawazin, Kudaa, Tamim, dan Tajik) dapat dipersatukan dan digunakanlah qiraat Quraisy sebagai standar, yang kemudian dikenal dengan Mushaf Utsmani. Mushaf ini lalu digandakan empat kali dan dikirim ke Madinah, Mesih, Damaskus, dan Baghdad.[15]

Akhir masa pemerintahan Utsman bin Affan ialah setelah beliau wafat karena dibunuh oleh pemberontak yang menyusup ke rumah saat beliau sedang membaca Al-Qur’an.

  1. IV.      Khalifah Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib, ialah putra dari paman Nabi Muhammad SAW dan suami dari putri beliau, Fatimah. Beliau merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW yang telah ikut bersamanya sejak bahaya lapar melanda kota Makkah, demi membantu keluarga pamannya yang mempunyai banyak putra. Abbas, paman Nabi Muhammad SAW yang lain membantu Abi Thalib dengan mengasuh Ja’far, putra Abi Thalib yang lain. Ia masuk Islam saat ia masih muda ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama pada umur 13 tahun (menurut Hassan) atau 9 tahun (menurut Mahmudunnasir). Ia menemani Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan Islam di Makkah dan Madinah sehingga ia diangkat menjadi menantu Nabi Muhammad SAW, dinikahkan dengan Fatimah. Karena kesibukannya merawat jenazah Nabi Muhammad SAW ia tidak sempat membai’at Abu Bakar sebagai khalifah, tapi ia membai’atnya setelah kematian Fatimah.

Dalam kondisi genting pasca terbunuhnya Utsman bin Affan, beberapa orang teridentifikasi sebagai pembunuh Khalifah Utsman baik secara langsung maupun tidak menunjuk Ali bin Abi Thalib. Orang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan kebanyakan dari Mesir dan memaksa Ali bin Abi Thalib agar mau menerima tawaran untuk menjabat sebagai khalifah, pengganti Utsman. Semula ia menolak dan mengusulkan agar mereka  memilih dari senior yang lain seperti Talhah atau Zubair. Akhirnya dengan tekanan-tekanan tersebut dengan permintaan serius (entreaty) dari kawan-kawan dekatnya serta sahabat yang lain, maka pada hari keenam pasca terbunuhnya Utsman, Ali terpilih menjadi khalifah.[16]

Untuk pertama kali di selesaikan oleh Ali bin Abi Thalib ialah menarik semua tanah yang dihibahkan oleh Utsman bin Affan kepada keluarganya kepada kepemilikan Negara dan mengganti semua gubernur yang tidak disenangi oleh rakyat. Gubernur yang diganti antara lain: Ibnu Amir penguasa Bashrah diganti Utsman bin Hanif, Gubernur Mesir Abdullah diganti Qays, dan Gubernur Suriah Muawiyah, tapi Muawiyah tidak mau meletakan jabatannya bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Di samping itu Ali bin Abi Thalib juga berusaha untuk mengembalikan pemerintahan Islam pada masa Umar. Selain itu Aisyah, bersama Thalhah dan Zubair meminta Ali bin Abi Thalib untuk mencari dan menghukum pembunuh Utsman bin Affan. Kondisi seperti ini semakin membuat kacau sehingga terjadi perang Jamal, Siffin, dan Nahrwan. Akhirnya Ali memindahkan ibukota dari Madinah ke Kufah, karena pengikut Ali bin Abi Thalib yang terbanyak di sana.

Persoalan pertama Ali bin Abi Thalib adalah menyingkarkan dua saingan utama kekhalifaan yang baru ia duduki, Thalhah dan Zubayr[17], yang mewakili kelompok Makkah. Keduanya, Thalhah maupun Zubayr memliki pengikut di Hijaz dan Irak yang tidak mau mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Aisyah, seorang istri yang paling disayang Nabi Muhammad SAW kini menjadi  “ibunda orang-orang beriman”, yang tidak mencegah tetapi justru membantu pemberontakan Utsman, kini bergabung dengan para pemberontak menenentang Ali bin Abi Thalib di Bashrah. Aisyah yang masih muda, yang menikah sedemikian dini,[18] sehingga ia masih membawa boneka dari rumah ayahnya (Abu Bakar), membenci Ali bin Abi Thalib yang pernah melukai kehormatannya; karena suatu ketika saat ia tertinggal sendirian dibelakang barisan rombongan Muhammad, Ali bin Abi Thalib mencurigainya telah berbuat mesum sehingga, Allah turun tanggan dan membelanya melaui sebuah wahyu (Q.S. 24:11-20). Di luar Bashrah pada 9 Desember 656, Ali bin Abi Thalib berperang dan mengalahkan pasukan gabungan dalam sebuah pertempuran yang dikenal Perang Jamal “perang unta” karena Aisyah menunggangi seekor unta ditenggah oleh para prajurit pemberontak.[19]

Peperangan antara umat Islam terjadi lagi, yaitu antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah di kota Shiffin dekat sungai Euphrat pada tahun 37 H yang hamper dimenangkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Namun, karena kecerdikan Muawiyah yang dimotori oleh Amr bin Ash, yang mengacungkan Al-Qur’an dengan tombaknya. Hal ini menandakan bahwa mereka mengajak berdamai. Khalifah Ali bin Abi Thalib sebenarnya tahu bahwa itu hanya tipuan tapi beliau didesak oleh pengikutnya maka Khalifah menerima tawaran tersebut. Akhirnya dilakukan tahkim yang berakhir pada kekalahan Khalifah Ali bin Abi Thalib, karena Abu Musa Al-Asy’ari perwakilan Khalifah menurunkan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Sementara Amr bin Ash tidak menurunkan Muawiyah sebagai gubernur Suriah, bahkan menjadikan kedudukannya setara dengan khalifah.

Sebagian laskar Ali bin Abi Thalib ada yang tidak menerima rencana tafkhim, tidak ikut pulang ke Kufah. Jumlah mereka ini sekitar 12.000 orang. Mereka keluar dari Sayyidina Ali dan juga keluar dari Mu’awiyah. Mereka membenci kedua-duanya. Inilah asal usul timbulnya golongan Khawarij.[20] Sebenarnya sampai saat itu merka adalah pendukung Sayyidina Ali, tapi kemudian secara tiba-tiba mereka berbalik ketika berlangsungnya tafkhim, dan berkata kepada dua kelompok tersebut: “Kalian semuanya telah menjadi kafir dengan memperhakimkan manusia sebagai ganti memperhakimkan Allah di antara kalian.”[21]

Akhir dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sangat tragis, karena beliau dibunuh dengan sudah direncanakan oleh kaumnya sendiri. Terdapat komplotan yang menganggap Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Amr bin Ash ialah kafir sehingga mereka boleh dibunuh. Komplotan itu terdiri dari tiga orang Khawarij. Abdurrahman ibnu Muljam, ditugaskan untuk membunuh Ali bin Abi Thalib di Kufah. Barak ibnu Abdillah at Tamimi, membunuh Muawiyah di Syam. Terakhir, ‘Amr Bak at Tamimi membunuh Amr bin Ash di Mesir. Ketiga komplotan tersebut, hanya Abdurrahman ibnu Muljam yang berhasil membunuh Ali.

  1. C.    Catatan Penutup

Pengaruh Khulafaurrasyidin pada masa sepeninggalan Nabi Muhammad SAW membawa pengaruh yang sangat besar untuk perkembangan Agama Islam di dunia. Masa Khulafaurrasyidin ini berhasil mengembangkan peradaban agama Islam. Persebaran agama Islam juga berkembang pesat. Banyak daerah yang berhasil dikuasai oleh umat Islam. Masa Khulafaurrasyidin ini sebagai peletak dasar perkembangat Islam yang pesat. Umat Islam berhasil menguasai sebagian besar wilayah Timur Tengah dengan balatentara yang tangguh dan pemimpin yang sangat cerdik, adil, dan bijaksana.

Pada masa Abu Bakar As-Siddiq prinsip dalam menjalankan pemerintahannya ialah kebebasan berpendapat, tuntutan ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta sholat sebagai intisari taqwa. Beliau juga memiliki kebijakan pemerintahan yang seimbang, tidak hanya mengurusi masalah kenegaraan saja tapi beliau juga mengurusi masalah agama karena pada saat itu banyak timbul masalah keagamaan yang harus ditangani dengan serius.

Sepeninggalan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, beliau menunjuk langsung Umar bin Khattab untuk menggantinya sebagai khalifah. Kekhalifahan yang paling kuat ialah pada masa Umar bin Khattab. Hal ini dikarenakan Beliau ialah seorang pemimpin yang adil, disiplin, tegas, dan bijaksana. Pada masa inilah kekuasaan Islam berkembang sangat pesat. Banyak daerah yang berhasil dikuasai melalui perang yang dilakukan pada masa Umar bin Khattab. Kekuasaan Umar bin Khattab ini bahkan sudah mencapai Asia dan Afrika. Kematian beliau dibunuh oleh orang Nasrani bernama Abu Lu’lah yang meresa dendam dengan beliau karena berhasil menaklukan Persia dan Romawi.

Setelah kematian Khalifah Umar bin Khattab maka posisi khalifah selanjutnya diteruskan oleh Utsman bin Affan dengan musywarah antara Abdur Rahman dan kaum Muslimin. Kekhalifahan Utsman bin Affan ini memiliki waktu kepemimpinan yang paling lama diantara keempat khalifah lainnya. Masa utsman bin Affan ini berhasil memiliki angkatan laut. Perang yang terkenal pada masa Khalifah Utsman bin Affan adalah pertempuran “Dzatis Sawari” (pertempuran Tiang Kapal) karena banyaknya kapal-kapal yang ikut berperang. Akhir hidup Khalifah Utsman bin Affan ini karena dibunuh oleh pemberontak yang berhasil menerobos masuk kediaman beliau. Pada masa Abu Bakar As-Siddiq, sudah dimulai untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab, karena banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam perang. Akhirnya pembukuan Al-Qur’an dilakukan pada masa Utsman bin Affan dengan pemegang tanggungjawab ialah Zaid bin Tsabit.

Kekhalifahan pun berlanjut ke masa Ali bin Abi Thalib. Pasca kematian Khalifah Utsman bin Affan secara langsung maupun tidak langsung Ali bin Abi Thalib mendapat tuduhan yang membunuh Khalifah Utsman bin Affan. Masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang pertama dilakukan ialah mengambil tanah yang dihibahkan kepada keluarga Utsman bin Affan. Selanjutnya beliau juga mengganti para amir yang tidak di senangi oleh rakyat. Pada saat inilah salah seorang amir yaitu Muawiyah tidak mau melepaskan jabatannya, bahkan tidak mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Karena itu terjadilah beberapa peperangan, yakni perang Jamal untuk melawan Aisyah, Thalhah, dan Zubair, dan perang Shiffin yaitu perang melawan Muawiyah. Saat perang Siffin inilah terjadi kesepakatan (tafkhim) yang membuat Khalifah Ali bin Abi Thalib harus turun dari jabatannya sebagai khalifah. Sehingga membuat Muawiyah yang diangkat menjadi khalifah. Ini karena kecerdikan bahkan kelicikan yang dilakukan oleh wakil Muawiyah dalam tafkhim tersebut yaitu Amn bin Ash yang tidak menurunkan Muawiyah sebagai amir di Suriah. Sedangkan wakil Ali bin Abi Thalib yaitu Abu Musa Al-Asy’ari menurunkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Hasil tafkhim ini membuat sebagian pengikut Ali bin Abi Thalib tidak terima sehingga mereka keluar dari lascar Ali bin Abi Thalib. Mereka menganggap bahwa ketiga orang yang melakukan tafkhim termasuk kafir karena ketetapan hanya Allah SWT yang berhak membuat. Mereka yang menyebut kafir ini menamakan dirinya Khawarij. Mereka berkomplot untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Amr bin Ash yang melakukan tafkhim.

Daftar Pustaka

 

Al-Maududi, Abul A’la, 1996, Khilafah dan Kerajaan, Cetakan VI, Bandung : Mizan

Hasan ,Hasan Ibrahim, 2001, Sejarah dan Kebudayaan ISLAM, Cetakan I, Jakarta : KALAM MULIA

Hitti, K. Philip, 2010, History of The Arab, Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta

Karim, M. Abdul, 2007, Sejarah Pemikiran & Peradaban Islam, Yogyakarta : PUSTAKA BOOK PUBLISHER

Khoiriyah, 2012, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam Hingga Dinasti-Dinasti Islam, Yogyakarta : Teras

Mufrodi , Ali, 1999, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cetakan II, Ciputat : Logos Wacana Ilmu

Nasir ,Sahilun A., 1982, FIRQOH SYIAH, Surabaya : Al-Ikhlas

Supriyadi, Dedi, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Setia

Syalabi, A., 2003, Sejarah & Kebudayaan Islam I, Jakarta : PT. Pustaka Alhusna Baru

Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II), Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Yarmuk


[1] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Ciputat : Logos Wacana Ilmu, Cetakan II, 1999), hal. 45-46.

[2] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Ibid., hal. 46.

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah), (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, cetakan II, 1993), hal.35-36.

[4] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), hal. 67.

[5] A. Syalabi, Sejarah & Kebudayaan Islam I, (Jakarta : PT. Pustaka Alhusna Baru, 2003), hal. 195.

[6] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ibid., hal. 67.

[7] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ibid.,hal. 77.

[8] Menurut yang diriwayatkan oleh Ibnu atsir bahwa Abdullah ibn Mas’ud berkata : Islamnya Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah suatu pertolongan, dan pemerintahannya adalah suatu rahmat. Mulanya kita tidak dapat mengerjakan sembahyang di rumah kita sendiri, karena takut pada kaum  . Tetapi, sesudah Umar masuk Islam lalu dilawannya kaum Quraisy itu, sehingga mereka membiarkan kita mengerjakan sembahyang. A. Syalabi, Sejarah & Kebudayaan Islam I, ibid., hal. 203.

[9] Faktor-faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik antara umat Islam dengan bangsa Romawi dan Persia yang pada akhirnya mendorong umat Islam mengadakan penaklukan negeri Romawi dan Persia, serta negeri-negeri jajahannya karena: pertama, bangsa Romawi dan Persia tidak menaruh hormat terhadap maksud baik Islam; kedua, sejak Islam masih lemah, Romawi dan Persia selalu berusaha menghancurkan Islam; ketiga, bangsa Romawi dan Persia sebagai Negara yang subur dan terkenal kemakmurannya, tidak berkenan menjalin hubungan perdagangan dengan negeri-negeri Arab; keempat, bangsa Romawi dan Persia bersikap ceroboh menghasut suku-suku Badui untuk menentang pemerintahan Islam dan mendukung musuh-musuh Islam; dan kelima, letak geografis kekuasaan Romawi dan Persia sangat strategis untuk kepentingan keamanan dan pertahanan Islam. A. Syalabi, Sejarah & Kebudayaan Islam I, Ibid., hal. 81.

[10] Pertempuran Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) adalah perang antara Muslim Arab dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua. http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Yarmuk

[11]A. Syalabi, Sejarah & Kebudayaan Islam I,  Ibid., hal. 82.

[12] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan ISLAM, (Jakarta : KALAM MULIA, Cetakan I, 2001), hal. 479.

[13] Orang yang berenam itu ialah: Utsman, ‘Ali ibnu Abi Thalib, Thalhah, Zubair bin ‘Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash dan Abdur Rahman ibnu ‘Auf. A. Syalabi, Sejarah & Kebudayaan Islam I, ibid., hal. 230.

[14] Pada masanya, wilayah kekuasaan Negara Madinah dibagi menjadi sepuluh provinsi: 1) Nafi’ bin Al-Haris Al-Khuza’I, Amir wilayah Mekkah; 2) Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi, Amir wilayah Thaif; 3) Ya’la bin Munabbih Hanif Bani Naufal bin Abd Manaf, Amin wilayah Shan’a; 4) Abdullah bin Abi Rabiah, Amir wilayah Al-Janad; 5) Utsman bin Abi Al-Ash Ats-Tsaqafi, Amir wilayah Bahrain; 6) Al-Mughirah bin Syu’bah Ats-Tsaqafi, Amir wilayah Kufah; 7) Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari, Amir wilayah Bashrah; 8) Muawiyah bin Abi Sufyan, Amir wilayah Damaskus; 9)Umar bin Sa’ad, Amir wilayah Himsh; dan 10) Amr bin Al-Ash As-Sahami, Amir wilayah Mesir. Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, ibid., hal. 91-92.

[15] Khoiriyah, Reorientasi Wawasan Sejarah Islam dari Arab sebelum Islam Hingga Dinasti-Dinasti Islam, (Yogyakarta : Teras, Cetakan I, 2012), hal. 61-62.

[16] Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam,(Yogyakarta : PUSTAKA BOOK PUBLISHER, Cetakan I, 2007), hal. 106.

[17] Ibunda zubayr adalah saudara perempuan ayah (bibi) Nabi, dalam Philip K. Hitty, History of The Arabs, (Jakarta : PT. Serambi Ilmu, 2010), hal. 223.

[18] Pada usia 9 atau 10 th, menurut ibn Hisyaman hal 1001, dalam Philip K. Hitty, History of The Arabs, (Jakarta : PT. Serambi Ilmu, 2010), hal. 224.

[19] Philip K. Hitty, History of The Arabs, (Jakarta : PT. Serambi Ilmu, 2010), hal. 223-224.

[20] Sahilun A. Nasir, FIRQOH SYIAH, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1982), hal. 28.

[21] Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, (Bandung : Mizan, Cetakan : VI, 1996), hal. 275.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s